Turing bersama teman-teman moge Harley Davidson

Kecintaan terhadap motor gede (moge) atau Harley Davidson membawanya ke Negeri Paman Sam. Bekerja sebagai teknisi Harley dari satu dealer ke dealer lainnya mencatatkan jam terbang tinggi dan bersertifikasi sebagai Master Tech satu-satunya di Harley Davidson yang legendaris. Lebih membanggakan lagi, Rd Boyke Pranata Soerianata saat pensiun nanti, bercita-cita pulang kampung di Bandung dan mendirikan Museum Harley Davidson.

Cerita berawal, saat Boyke masih SMA tinggal dengan pamannya yang maniak motor dan mobil klasik, termasuk Harley Davidson. Dari situ Boyke mendengar suara menggelegar khas motor besar dan body Harley yang begitu memesona. Impian Boyke pun langsung tercipta seraya membayangkan dirinya menggunakan motor besar, lengkap dengan jaket kulit dan gagahnya menembus jalanan.

Hanya saja, impian itu sempat tertinggal sebatas angan. Pasalnya, selepas SMA Boyke memutuskan untuk masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang. Ia lulus berbagai tes seleksi di Bandung, namun pada tahap akhir, ia dinyatakan gagal. Boyke sempat down selama setahun. Dalam kegalauan itulah, ditambah tanpa adanya pekerjaan yang jelas, diam-diam Boyke merajut mimpinya kembali. Ia bermimpi ingin pergi ke Amerika!.

Kebetulan ada paman tirinya tinggal di Los Angeles, California. Pria kelahiran Jakarta, 24 April 1974 itu beberapa kali kontak dengannya. Mereka menyambut permintaan itu dengan mengusulkannya mengambil bidang studi perhotelan dulu. Boyke belum ‘ngeh’ soal itu, tapi demi cita-cianya, ia pun mencoba masuk

Titik terang Boyke hijrah ke AS saat ada job traning di Hotel Hyatt Regency Bandung. Ia terlibat intens dalam menyiapkan grand opening hotel tersebut baik dari pelayanan hotel dan manajemen, hingga ia berhak beroleh surat rekomendasi. Ini kunci untuk ke Amerika, gumamnya.

Di sela job training, pertengahan semester akhir kuliah ia dan teman-teman nya membuka Cafe (aneka makanan dan minuman) di jalan Lombok, Bandung. Teman-temannya sering nongkrong di sana, dan tanpa dinyana ada teman SMA Boyke yang ingin menjodohkannya dengan wanita asing blasteran Jepang-Amerika. Namanya, Wendy Kimi. Karuan Boyke sumringah, karena belum punya pacar dan sekaligus ia bisa belajar Bahasa Inggris. Namun, Wendy harus pulang ke Amerika.

Singkat cerita, selesai kuliah perhotelan, Boyke meminta tolong pacarnya itu untuk membantunya mencari kerja di AS. Boyke menanyakan apakah ada hotel di dekat tempat tinggalnya?. Kata Wendy, ada beberapa hotel termasuk Hotel Hyatt. Tanpa pikir panjang boyke mengirim surat lamaran, berikut surat rekomendasi dary hyatt regency Bandung.

Mengadu Nasib di AS

Bersama keluarga tercinta, istri dan ketiga buah hati

Namun tidak semudah disangka, ia harus menghadapi masalah, pihak keluarga berat melepasnya pergi jauh, lantaran Boyke anak pertama laki-laki dalam keluarga Soerianata. Tapi tekad nya sudah bulat, maka dia tetap pergi walau tanpa restu orang tua. Sesampainya di negeri Paman Sam, Boyke menemui Wendy Kimi yang kini jadi ibu dari 3 buah hatinya—Veda Poetri, Aura Emiko dan Tanah Reef.

Lima tahun bekerja di hotel, tapi selama tiga tahun Boyke sudah merasa galau. Ia ingin move on, mencari pekerjaan yang menjawab isi hatinya. Itulah, menjadi teknisi motor Harley Davidson. Hidup lagi ketertarikan Boyke pada motor legendaris itu. Kebetulan salah satu temannya ada yang kuliah di Motorcycles Technology di Sacramento City College yang kemudian mengajaknya bergabung.

Saat itu, Boyke kuliah di sana selama dua tahun, lalu mendapatkan Certificate of Achievement / COA. Setelah bermodalkan pengetahuan dan sertifikat, ia mencoba melamar ke dealer Harley, tapi bekal teknik itu belum cukup. Ia harus belajar dulu di Harley-Davidson University.

Dilema, karena ketika itu ia harus meninggalkan istri dan bayi pertamanya, karena tinggal di state yang berbeda. berkat keikhlasan istrinya, ia pun bisa menyelesaikan masa kuliah selama 2,5 tahun, lalu ditempatkan di Harley-Davidson Dealer. Ia melewati seleksi ketat dari melihat GPA dan attendencies-nya sebagai menunjukkan keseriusan, dan personalitasnya. “GPA saya memuaskan, kehadiran pun sangat bagus (perfect attendencies) dan dapat penghargaan “Director List”/The Best Student, hingga saya bisa diterima di salah satu Harley Dealer tertua di wilayah utara California,” kata pria yg berdomisili di Sacramento, California ini.

Menjadi Teknisi Harley Paling Kecil

Semasa kuliah di Harley Davidson University

Boyke empat kali berpindah dealer Harley Davidson di wilayah North California. Dia semakin luas pergaulan dan bertambah pengetahuan tekniknya, serta terus menempanya untuk belajar tiada habisnya. Tentang pekerjaanya, ia mengibaratkan dirinya sebagai dokter bedah di rumah sakit, yang tugasnya mengoperasi pasien. Sebagai seorang spesialis atau Master Tech, ia dibantu beberapa anak buah.

Jika motor Harley datang ke dealer/service departement, orang pertama harus bertemu dengan Service Writer/Service Advisor yang bertugas menulis keluhan sakit dari motor itu. Setelah proses itu selesai, maka Service Writer mengajukan semua catatan tertulis itu kepada saya. Tugas saya mengeksplor troubleshooting-nya/mengatasi permasalahan secara profesional,” kata pehobi traveling, fotografi dan bermain drums itu.

Motor dibawa ke ruang service deparment di mana telah ada enam teknisi dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing. Dari keenam teknisi itu, Boyke salah satunya. Ia memperbaikinya, lalu motor di-test ride untuk menguji kelayakan jalan motor itu. Motor besar itu berbeda dari mobil, karena prinsip sederhana pengendara motorcycle itu ada dua hal: Nyawa anda di Ban Motor dan Aspal / Road“.

Antara ban dan nyawa itu bergandengan. Ban itu menyentuh aspal, dan itu nyawa si pengendara dipertaruhkan. Jadi setiap ada problem kita harus tuntaskan dan bertanggung jawab atas kelayakan motor yang diperbaiki itu. Setelah beres, motor dibuat kinclong/detailing oleh anak buah (detailing guys), lalu motor diserahkan ke pemiliknya,” lanjut Boyke.

 

Bersama Ayahanda dan mas Indro Warkop

Uniknya, selama Boyke bekerja sebagai teknisi Harley Davidson di Amerika, dia mendapati dirinya sebagai satu-satunya orang Indonesia yang bekerja sebagai teknisi motor Harley di Amerika Serikat. Dan memang, Boyke bertutur sewaktu dirinya masih kuliah, ada lima orang, namun satu gagal. Empat lainnya lulus, salah satunya Boyke.

“Teman-teman saya hanya kuliah di AS, lalu pulang lagi ke Indonesia. Untuk bekerja sebagai teknisi Harley di sini tuntutan kerjanya tidak ringan. Dari sisi legalitas dan profesionalitas juga tidak biasa, belum lagi sesi plonco bagi teknisi baru benar-benar nekat. Yang tersisa hanya saya saja,” tandasnya.

Tak hanya itu, Boyke pun mendapati dirinya bertubuh ‘sangat kecil’ dibandingkan teknisi Harley lain yang pernah ditemuinya. Maksudnya, rata-rata teknisi Harley orang kulit putih dari Amerika yang tinggi, bertubuh kekar, berjenggot panjang, dan bertato. Melihat fisik Boyke yang ‘mungil’ menurut ukuran mereka, hampir semua customer tak percaya dia teknisi.

Boyke biasanya langsung bercerita kalau ia teknisi yang berasal dari Indonesia. Lalu cerita biasanya bergulir tentang letak Indonesia yang kalah terkenal dari Bali. Padahal Indonesia itu istimewa. Terkait dengan Harley Davidson di Asia Tenggara, Indonesia termasuk yang paling top populasi pengendara moge tersebut, selain bekerja ia juga mempromosikan wisata Indonesia (Tourism Program).

Ke depannya, Boyke berangan-angan membuat Museum Harley Davidson di Indonesia. Alasannya sederhana, karena dilatar belakangi sejarah, kita harus bangga dengan sejarah, karena karakter Harley Davidson demikian. Dimulai dari Zaman Kemerdekaan saat Bung Karno melakukan pawai didului/dikawal petugas prajurit bermotor Harley Davidson Flathead. Orang Belanda saat itu mendatangkan motor Harley ke Indonesia dengan mengimpornya dari Amerika.

Setelah zaman kemerdekaan, motornya banyak diambil dan dari situlah tercipta sejarah Harley Davidson Rider di Indonesia dan satu-satunya paling terkenal di kota Bandung.

“Kita tunggu saja prosesnya. Saya sudah pernah ngobrol dengan Kang Emil (Ridwan Kamil, Walikota Bandung—Red) terkait museum ini,” Bismillah Pungkas Boyke. (1009)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here