Siapa yang tak ingin punya bisnis sendiri? Jawabannya pasti hampir semua orang ingin punya bisnis sendiri. Apalagi jika ingin memulai bisnis di Amerika, bagaimana caranya memulainya?

Kabari berhasil mewawancarai sejumlah pebisnis Indonesia di Amerika yang sampai sejauh ini telah berhasil menjalankan bisnisnya di Amerika. Mereka membagi pengalamannya untuk Anda.

Dari Chef dan Waitress

John tak pernah menyangka kalau sekarang dia bisa mengelola sekaligus memilki sebuah restoran bernama “Go China” di Amerika. Bahkan restoran ini termasuk restoran Indonesia yang laris di Amerika. Di restoran itu awalnya John bekerja sebagai chef. Sementara istrinya, Dewi, juga bekerja sebagai waiterss. Setelah bekerja selama beberapa tahun, pada tahun 2005 pemilik restoran memutuskan pensiun dan menawarkan kepemlikan restoran ini kepada John dan Dewi.

Kenapa ditawarkan kepada pasangan John dan Dewi? John mengungkapkan, “Mungkin karena dia sudah percaya dengan kami, apalagi kami sudah bekerja bertahun-tahun di restoran ini, jadi sudah hapal betul seluk beluknya, “ kata John.

John lalu mengajak satu orang lagi kawannya dari Surabaya yang sudah berpengalaman berbinis untuk turut membeli saham restoran ini. Akhirnya sejak itulah bersama kawannya serta dibantu istrinya, John mulai mengelola restoran “Go China”.

“Modal, semua berangkat dari kantong pribadi, tidak ada dana pinjaman, sehingga kita juga tidak pusing dengan bunga bank atau pinjaman,” kata John ketika ditanya soal modal tanpa menyebutkan rincian modal yang telah dikeluarkan untuk membeli restoran ini.

Restoran ini sendiri sudah berdiri sejak sepuluh tahun lalu, namun baru dikelola John sejak tahun 2005. John memilih bisnis ini karena menurutnya sederhana dan dia sudah tahu seluk beluknya. “Simple, karena kita tahu bagaimana bisnis ini, lokasinya bagus, masakannya enak dan prospektif.” ungkap John.

Menariknya meski jadi pemilik, John tak mau hanya berpangku tangan. Dia juga bekerja sebagai chef, sehingga kesempatan untuk mengembangkan variasi makanan semakin terbuka. “Karena Chefnya saya sendiri, kita jadi bisa mencoba menu-menu baru,” katanya.

Apa sih tantangan dan kesulitan menjalani bisnis ini? Menurut John, secara teknis mereka harus menyesuaikan dengan peraturan peraturan pemerintahan state atau pemerintahan federal. “Pokoknya kita mesti ikut aturan, mulai dari health dept sampai fire dept. Yang terakhir adalah bahwa kita harus upgrade fire suppression system di dapur ke module yg paling baru, cost cukup banyak,” tapi John menambahkan sebetulnya biaya-biaya tersebut tak terlalu berat, Cuma karena kondisinys sedang resesi begini, jadinya serba sulit.  “Pasadena sendiri cukup unik dibanding kota lain, kota ini menjadi headquarter beberapa perusahaan besar….mulai BOA, AT&T, Parsons, Kaiser Permanente, Avery, Indymac dll…Di kota ini juga terdapat beberapa gedung keuangan, mortgage dan bank seperti countrywide, city mortgage dan lain-lain, jadi roda perekonomiannya saya yakin akan terus berjalan menuju positif,” papar John.

Bekas Artis Buka Salon

Lain John lain pula cerita Jap Djoen Fong, pemilik JDF Beauty and Hair Salon. Jap Jap Djoen Fong atau bisa disingkat JDF sesuai merek salon miliknya. JDF melalui bisnis salon ini boleh dibilang tak main-main. Awalnya dia belajar Hair Cutting di Hong Kong, Belajar Sanggul (Updo) di Bangkok-Thailand, belajar merawat kecantikan wajah di Tokyo, belajar tato alis dan badan di New York.

Bahkan pada tahun 1979, JDF berhasil meraih juara Hair Cutting se-Indonesia. Penghargaan ini tentu membuktikan bahwa JDF tidak main-main ketika terjun ke bisnis salon. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, ternyata sosok JDF ini cukup menarik, “Awalnya saya seorang Foto Model dan Artis Sinetron dari PARFI, kurang lebih 50 judul film atau sinetron sudah saya bintangi,” kata JDF.

Tahun 1979 setelah menjadi juara Hair Cutting se Indonesia, JDF kemudian membuka bisnis salon kecil-kecilan dengan nama JDF Hair & Beauty Salon Salon. Perlahan tapi pasti, JDF salon terus berkembang “ Di Indonesia ada 14 Cabang tersebar di beberaa kota, di Jakarta, Surabaya, Makasar, Malang, Bali, dan Semarang,” kata JDF.

Soal tantangan membuka bisnis di Amerika, JDF mengemukakan, “Pertama tentu saja saja saya cari tahu dari orang yang sudah pengalaman buka bisnis di sini, lalu saya banyak belajar dari berbagi hal, termasuk peraturan dan undang-undang membuka usaha dibantu pengacara saya,jadi tantangannya adalah harus bisa cepat belajar dan banyak tanya, ” ujar JDF.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here