Atase Perdagangan Washington, D.C melakukan peluncuran tujuh produk sambal Indonesia dari Henny’s Kitchen di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, D.C, Amerika Serikat (18/2). Ada tujuh sambal khas Indonesia yaitu sambal Bali, sambal ijo, sambal rendang, bumbu gado-gado, sambal bajak, bumbu rica-rica dan sambal terasi.

Disampaikan Ni Made Ayu Marthini dari Atdag Washington, D.C, kegiatan ini merupakan salah satu program inkubator bisnis Atase Perdagangan (Atdag) untuk mendorong kewirausahaan diaspora dalam rangka peningkatan ekspor produk Indonesia ke Amerika. “Program ini mendapat sambutan positif dan kami berharap dapat mendorong kewirausahaan diaspora sekaligus mempromosikan produk dan masakan Indonesia ke masyarakat AS” papar Marthini.

Menurut Adi Hutomo, salah satu pemilik Henny’s Kitchen, kreasi sambal dan bumbu Indonesia  yang diciptakan lahir ketika diundang Atdag untuk menyediakan katering saat Summer Fancy Food Show (SFFS) di Washington, D.C pada tahun 2012 lalu. Pameran tersebut membuka wawasan Andy, Henny dan Eunice selaku pemilik Henny’s Kithen bahwa saat ini masyarakat Amerika menyukai makanan sehat, alami, cepat namum bercita rasa. Sambal dan bumbu kemasan menjadi pilihan yang memberi solusi, sambil memperkenalkan makanan khas Indonesia.

“Saya, Henny, Eunice sebetulnya pertama kali bertemu melalui sosial media Facebook beberapa tahun lalu, dari ngobrol-ngobrol tersebut kami yang kebetulan pencinta makanan enak dan lumayan bisa masak akhirnya bertekad mempromosikan makanan Indonesia” kata Andi menjelaskan asal mula bisnis makanan di Washington, D.C.

Atase Perdagangan Washington DCAcara peluncuran sambal Henny’s Kitchen dihadiri kurang lebih 100 undangan diantaranya masyarakat AS pecinta masakan Indonesia yang pernah berkunjung dan pernah tinggal di Indonesia, wakil pejabat pemerintah Federal AS, diaspora Indonesia, pelajar dan media.

Heru Subolo, Kepala Fungsi Penerangan dan Budaya mewakili KBRI pun angkat suara melihat perkembangan ekspor produk Indonesia ke AS. “Salah satu instumen penting untuk meningkatkan ekspor produk dalam negeri adalah dengan memanfaatkan diaspora. Saat ini tercatat sekitar 150.000 diaspora Indonesia yang bermukim di AS dan itu merupakan aset yang cukup besar dan harus dimanfaatkan untuk mengonsumsi dan memasarkan produk Indonesia” ujar Heru.

Saat ini ada tiga unit usaha milik diaspora Indonesia yang secara resmi telah menjadi bagian dari proyek rintisan program inkubator bisnis Atdag, diantaranya Nagadi Coffee, Henny’s Kitchen dan Koperasi masyarakat, Indonesia Consumer Cooperative, Inc (ICC). “Ke depannya Kantor Atdag bermaksud mengembangkan program ini agar dapat menjangkau diaspora lebih luas, misalnya dengan bekerja sama dengan Indonesia Diaspora Businness Council dan organisasi komunitas lainnya, yang merupakan wadah para diaspora dunia (termasuk AS)” ungkap Marthini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here