Dunia digital bukanlah hal baru bagi Shinta W Dhanuwardoyo. Ia telah berkecimpung di dunia IT selama belasan tahun, di mana pada 1996 mendirikan Bubu.com saat dunia internet masih sangat minim peminat. Belum juga popular! Kini era telah berganti, Shinta Bubu, ia akrab disapa, memiliki mimpi kelak bangsa Indonesia tidak jadi pengguna saja, melainkan jadi pemain. Tak hanya di tingkat lokal, melainkan internasional.

Acap mendapat kunjungan apresiasi dari banyak pihak

Acap mendapat kunjungan apresiasi dari banyak pihak

Alkisah, selepas kuliah di jurusan Arsitektur di University of Oregon, Amerika Serikat, Shinta melanjutkan pendidikannya ke jenjang Master di International Business di Portland State University, AS. Tanpa dinyana, pada masa itulah ia mulai bersentuhan dengan komputer, karena sempat bekerja sebagai graduate assistant di laboratorium komputer kampusnya. “Dari sana saya banyak belajar komputer, dari internet. Berhubung latar belakang saya adalah arsitektur yang salah satu kerjanya adalah mendesain, lantas kenapa tidak mencoba mendesain website.” Tuturnya.

Setelah berkarir di perusahaan konsultan manajemen pada 1995, Shinta memutuskan keluar bekerja pada 1996 bersama temannya mendirikan Bubu.com di Indonesia. Bubu didirikan pada tahun yang sama saat di Indonesia belum banyak yang bermain di dunia digital. Internet pada dasawarsa 1990-an baru dikenal. Dan yang dilakukannya hampir bisa dibilang langka, karena jarang ada yang mendirikan perusahaan berbasis IT kala itu. Tetapi Shinta percaya pada pilihannya, lalu mulai membangun Bubu. Ia memilih menggunakan domain website yang mudah dihapal dan diingat orang. Pilihan nama pun jatuh ke nama anjing kesayangannya, Bubu.

Alasannya sesederhana itu? Ya, sebab nama itu mudah diingat dan mudah spelling-nya. “Kalau dulu domain name panjang dan ejaannya susah, sedangkan Bubu mudah diingat orang,” katanya. Benar saja, sekarang orang-orang lebih mengenal dirinya sebagai Shinta Bubu, ketimbang nama aslinya. “Saya rasa pemberian nama itu berhasil ya. Orang selalu menanyakan nama itu, eh orang-orang malah ingat saya dengan nama BUBU daripada last name saya. He he he.”

Tampilan website www.Bubu.com

Tampilan website www.Bubu.com

Dalam mengembangkan Bubu, Shinta banyak melakukan trial and error, lalu terus mencoba apa pun risikonya. Baginya, jika ingin melakukan perubahan harus dilakukan dengan cepat. “Dibutuhkan jiwa enterpreneur yang kuat. Saat gagal, kita harus cepat bangun kembali dan kreatif, solving problem dan menjadi makanan seorang entrepreneur,” katanya.

Bersama Andreas B, Head of growth in Path

Bersama Andreas B, Head of growth in Path

Bubu yang berawal hanya perusahaan web dengan fokus kerja mendesain website, website untuk perusahaan dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Seiiring perkembangan zaman, pada 2007 Bubu bertransformasi menjadi perusahaan digital agency atau advertising agensi yang berfokus pada media digital, online media, mobile, sosial media, dan lainnya.

Dalam digital agency, Bubu membuat strategi branding perusahaaan dan melakukan executed. Shinta mencontohkan, misalnya, dalam membuat aplikasi, menjalankan media sosial Bubu akan membantu mengisi konten dari jejaring sosial perusahan tersebut dari Facebook sampai Twitter, “Kita lebih menjadi digital agency dalam dunia digital, dan juga melakukan strategi marketing seperti membuat iklan dalam portal, mobile phone dan kita harus memikirkan di dalam media sosial. Apakah brand atau perusahan ini membutuhkan aplikasi facebook, mobile apps, semua seputar dunia digital.” tutur Shinta.

Tentu, apa yang dilakukan olehnya penuh dengan tantangan. Sebab, dunia digital merupakan dunia yang baru. Di Indonesia sendiri pengguna media sosial cukup aktif dengan jumlah yang fantastis mencapai puluhan juta. Di situlah, kata Shinta, brand atau perusahaan berperan dalam mengelola digital marketing-nya. Perusahaan yang sifatnya multinasional sudah banyak yang peduli tentang keberadaan dan manfaat dari menerapkan fungsi digital agency bagi perusahaannnya jika merujuk pada kenyataan banyaknya pengguna aktif media sosial di Indonesia. Mau tidak mau perusahaan dan branding harus berkecimpung di ranah ini.

SVA Technology Allianc

Bersama Marie Elka Pangestu, mantan Menparekraf

Bersama Marie Elka Pangestu, mantan Menparekraf

Demi memajukan perkembangan dunia digital di Indonesia, Shinta banyak melakukan mentoring bagi start up dan banyak membantu perusahan berbasis digital yang baru. “Saya mencoba membantu apa yang saya dapatkan selama 18 tahun. Karena itu saya sering diundang sebagai dosen tamu di universitas-universitas,” katanya. “Sejak 2001 Bubu mengadakan Bubu Award sebagai sebuah pentas penghargaan bagi kaum yang berkiprah di dunia digital di Indonesia. Konferensi start up di mana dalam event tersebut diundang para pembicara dari luar negeri, semisal dari Facebook, Amazon, dan Ebay”.

Tahun lalu bersama Sonia Lontoh, Felice Beckman, Alex Beckman di Silicon Valley, Shinta mendirikan organisasi non profit yang dinamakan Silicon Valley Asia Technology Alliance (SVA Technology Alliance). SVA Technology Alliance ini berperan sebagai sumber informasi dan komunikasi untuk pemain teknologi di Amerika Serikat yang tertarik pada pasar Indonesia atau sebaliknya.

Tujuan utamanya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekosistem start up teknologi negara kepulauan ini dengan memberikan akses ke mentor yang tepat dan investor dari Silicon Valley. “SVA Technology Alliance ini dibuat untuk membangun jembatan antara teknologi Industri IT dan Silicon Valley. Di situ kami ingin membantu Indonesia belajar dari Silicon Valley dan membawa sesuatu dari sana untuk membantu Indonesia,” kata Shinta.

Dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil

Dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil

“Peluangnya sangat besar asal kita harus belajar dan mau tidak mau menerima bantuan dari luar dan saling bekerja sama. Saya melihat banyak inkubator lokal yang bekerja sama dengan inkubator luar negeri, dan banyak belajar dari luar. Semoga ekosistem dunia teknologi sekarang semakin membaik dan mendorong lebih banyak angel investor yang melakukan investasi kepada perusahaan tech start up yang baru.”

Hanya saja untuk menjamin agar ekosistem itu terus berjalan dengan baik, diperlukan Infrastruktur yang menunjang dan kebijakan pemerintah yang jelas. Shinta masih belum melihat kebijakan untuk e-commerce di Indonesia, sedangkan banyak pemain e-commerce di Indonesia. “Dibutuhkan kebijakan yang jelas bagi kedua belah pihak dari player sampai konsumennya. Kita harus dorong, karena perubahan teknologi di Indonesia begitu cepat. Kita harus beradaptasi dan menciptakan ekosistem yang menguntungkan bagi semua pihak,” katanya.

Mendirikan Start Up Butuh Mental Baja

Bersama pendiri Facebook, Mark Zuckerberg

Bersama pendiri Facebook, Mark Zuckerberg

Berbicara soal prospek dunia digital di Indonesia, Shinta mengatakan sangat menjanjikan karena seperti yang dicontohkan dari pengguna internet yang meningkat, begitu pula pengguna mobile yang sangat besar di Indonesia. Alhasil, market-nya sangat besar dan memiliki potensi yang luar biasa.

Sekarang Shinta melihat banyak anak muda yang berminat terhadap dunia IT. Anak muda yang baru lulus memilih jalan hidupnya menjadi entrepreneur. Tetapi patut dicatat, menjadi tech enterpreneur tidaklah mudah. “Tidak hanya membuat satu program lantas berpuas diri, karena diperlukan dedikasi tinggi dan konsistensi yang militan. Sekarang ini masih tren orang terkadang ikut-ikutan membuat start up dan tidak sampai setahun tutup. Mengapa? Karena mentalnya bukan seorang enterpreneur, wirausahawan. Untuk menjadi seorang entrepreneur, ia harus menyiapkan diri, membuat produk yang betul-betul solving problem dan dibutuhkan masyarakat,” tutur Shinta.

“Kuncinya lebih ke persistensi, tahan uji. Tidak boleh gampang putus asa, karena tidak mudah menjalani bisnis. Berbisnis itu bukan untuk diri sendiri, melainkan juga ke orang lain, inovatis dan kreatif. Selalu belajar, dan stay humble, rendah hati, juga selalu bersyukur. Learning by doing, banyak belajar di sekolah tetapi juga jika tidak turun langsung ke lapangan, percuma. Dan Indonesia jangan hanya menjadi user saja, tetapi saya berharap start up lokal bisa mengglobal. Tidak menjadi user saja, tetapi harus menjadi player. Kalau perlu menjadi tech global player,” pungkas Shinta. (1009)

langganan Extra Uang

Save