Resesi yang terjadi beberapa tahun yang lalu telah merugikan kontraktor rumah dan sub kontraktor yang bekerja untuk mereka. Biro Sensus Amerika melaporkan bahwa jumlah rumah yang dibangun turun 59 persen antara tahun 2005 sampai 2009, tepatnya turun sebanyak lebih dari satu juta rumah per tahun. Penurunan drastis ini memaksa para kontraktor rumah yang masih beroperasi untuk mengurangi pengeluaran mereka. Karena premi asuransi terkadang cukup mahal, banyak kontraktor mempertimbangkan untuk tidak memakai pertanggungan. Beberapa pertanggungan, misalnya kompensasi pekerja, diwajibkan oleh hukum sehingga tidak bisa ditanggalkan. Tetapi, beberapa polis asuransi liabilitas, termasuk polis payung (umbrella policy), tidak wajib, sehingga beberapa kontraktor ingin mengurangi atau bahkan tidak memakainya sama sekali. Namun, ini bisa berdampak jelek bagi masa depan usaha.

Polis payung menjalankan dua fungsi penting. Pertama, menanggung banyak jenis kerugian yang tidak ditanggung asuransi liabilitas umum komersial utama dari usaha yang diasuransikan. Misalnya, banyak perusahaan asuransi yang menyediakan polis CGL telah menambah ketentuan-ketentuan yang menghapus pertanggungan untuk klaim-klaim yang muncul dari penggunaan Chinese drywall. Bahan bangunan ini membusuk, menyebabkan masalah kesehatan untuk penghuni rumah, dan merusak properti seperti elektronik dan perhiasan mahal. Misalkan kontraktor memasang Chinese drywall di 20 rumah dalam setahun dan 10 pemilik rumah mengajukan klaim. Maka kontraktor akan menghadapi 10 tuntutan hukum, yang kesemuanya tidak ditanggung oleh polis CGL primer. Tapi, polis payung mungkin bisa menurunkan dan menanggung klaim-klaim ini.

Seringkali, polis payung memberi pertanggungan tambahan ketika klaim-klaim katastropik sudah menghabiskan jumlah tanggungan asuransi yang tersedia di polis liabilitas primer. Karena klaim katastropik itu relatif jarang, perusahaan asuransi bersedia memberi asuransi dengan jumlah lebih tinggi untuk sebagian kecil biaya pertanggungan primer. Namun, ketika klaim-klaim in terjadi, angkanya terkadang fantastis. Misalkan seorang pekerja dari seorang kontraktor di tempat pembangunan 12 rumah teledor membuang puntung rokok ke tumpukan sampah. Sampah pun terbakar, dan apinya menyebar ke rumah yang sedang dia kerjakan, dan angin membuat kebakaran menjalar ke rumah-rumah di deretan itu sehingga kesemuanya terbakar. Kontraktor mungkin secara hukum harus bertanggung jawab untuk semua kerusakan itu, dan biayanya melebihi pertanggungan polis CGL. Nah, polis payung akan menutupi kekurangannya, sehingga kontraktor tidak jatuh bangkrut.

Cedera yang mengenai pekerja kontraktor yang lain di tempat kerja juga bisa menjadi penyebab kerugian besar, apalagi jika kecelakaan tersebut menyebabkan kematian. Sayangnya, kematian di tempat kerja banyak terjadi. Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Amerika melaporkan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi hanya dalam rentang Mei sampai Juli 2010, sebagai berikut:

  • Pekerja atap di Georgia meninggal setelah jatuh dari atap berketinggian 4 meter.
  • Sebuah atap ambruk di Ohio dan menewaskan satu pekerja dan membuat 2 orang dilarikan ke rumah sakit
  • Seorang pekerja di Ohio meninggal karena tertimpa oleh tempat sampah yang jatuh dari forklift

Seorang kontraktor umum atau kontraktor yang bertanggungjawab atas keamanan di tempat kerja akan menjadi target gugatan hukum dari kejadian-kejadian seperti ini, dan penyelesaiannya akan melampaui nilai yang ditanggung asuransi liabilitas primer.

Industri asuransi tidak memiliki polis payung yang standar, jadi penting bagi Anda untuk teliti memeriksa satu per satu bersama agen asuransi profesional untuk memastikan kerugian-kerugian mana yang ditanggung. Selain itu, self-insured retention (mirip dengan deductible) akan berlaku untuk kerugian-kerugian yang tidak ditanggung polis primer. Akan tetapi, memiliki polis payung mungkin bisa menyelamatkan Anda dari kebangkrutan.