Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup di tingkat 9,605.51 pada 10 September 2001. Setelah serangan teroris keesokan harinya, pasar hanya dibuka lagi tanggal 17 September 2001. Pembukaan hari itu, DJIA mencatat titik terendah yaitu 8,755.46, dan pasar tidak mampu rebound selama satu bulan.

Hari itu adalah salah satu dari kasus paling ekstrim dari dampak terorisme terhadap saham. Serangan terjadi hanya beberapa blok jauhnya dari New York Stock Exchange, sehingga kantor NYSE harus ditutup karena beberapa kerusakan dan kekhawatiran soal keamanannya. Namun, serangan teroris seperti ini tidak harus terjadi di pusat-pusat financial untuk dapat berdampak serius pada harga saham dan kepercayaan pasar. Aksi teror dapat mempengaruhi portfolio seseorang, tapi untungnya ada beberapa cara investor untuk melindungi finansial mereka dari dampak buruk serangan-serangan teror di masa datang.

Target Terorisme

Lembaga-lembaga finansial, ladang-ladang minyak dan aset-aset strategis lainnya biasanya menjadi sasaran serangan teroris. Untuk itu, kantor-kantor pialang saham dan bank-bank ternama telah memperkuat pengamanan mereka untuk mencegah serangan teroris. Teroris juga menargetkan perusahaan-perusahaan yang mengakibatkan kerugian rata-rata sebesar $401 juta dalam kapitalisasi pasar.

Reaksi Terorisme

Reaksi terhadap serangan terorisme biasanya lebih dipengaruhi emosi dibandingkan fakta. Meskipun penghentian sementara impor minyak hanya berpeluang kecil untuk menaikkan harga minyak dunia, ancaman dan kabar akan adanya serangan dapat menyebabkan harga melonjak tajam apabila orang merasa sangat ketakutan. Harga minyak yang melonjak biasanya berujung pada kekhawatiran bahwa industri seperti produsen mobil dan maskapai penerbangan akan meningkatkan harga mereka untuk konsumen. Bila ini terjadi, efeknya akan melebar sampai pasar saham.

Karena serangan teroris memiliki dampak besar terhadap lembaga-lembaga keuangan dan perusahaan-perusahaan minyak, investor yang cemas perlu memastikan bahwa portfolio mereka beragam. Jika portfolio Anda hanya terdiri dari saham produsen mobil ternama atau saham di perusahaan di bidang perminyakan, kemungkinan besar portfolio Anda akan terkena dampak ancaman ataupun serangan teror.

Saham Sasaran

Ada beberapa industri yang terancam mengalami pergarakan harga setelah terjadinya serangan teroris, di antaranya:

  1. Perusahaan minyak dan gas. Tersendatnya pasokan akan berdampak pada laba dan penerimaan. Bahkan jika kekhawatiran atas pasokan yang menurun tidak terwujud menjadi masalah jangka panjang, pasokan dan permintaan masih dapat meningkat. Jika begitu, perusahaan-perusahaan minyak dan gas akan dirugikan oleh sendatan ini.
  2. Saham maskapai penerbangan dapat dirugikan serangan teroris jika serangan itu melemahkan kepercayaan masyarakat untuk bepergian. Jika terhentinya layanan berlangsung lama, dapat terjadi pegajuan pailit. Untuk industri yang memang tidak berkinerja baik, ancaman teroris akan berdampak luar biasa.
  3. Industri mobil menderita kerugian dari harga bahan bakar. Misalnya, produsen yang menawarkan kendaraan mewah atau mobil yang konsumsi bahan bakarnya tinggi akan menderita jika harga-harga naik. Jika ini terjadi, orang akan cenderung membeli mobil yang lebih irit.
  4. Saham-saham perbankan dirugikan oleh serangan apapun terhadap infrastruktur keuangan, contohnya ketika Internet harus dipadamkan atau saat harus menutup kantor bursa, sehingga membuat saham rentan serangan.

Jaring Pengaman

Untuk investor yang cemas dengan dampak terorisme terhadap harga saham, bisa dipilih beberapa saham yang lebih aman. Saham-saham terkait pengamanan yang menanggung infrastruktur IT hampir pasti akan naik, dan perusahaan-perusahaan yang menawarkan pengamanan di tempat-tempat seperti bandara atau pusat transportasi lainnya. Saham pertahanan juga akan untung. Perusahaan produsen amunisi, senjata dan pesawat tempur akan naik sahamnya saat terjadi kekhawatiran. Mereka yang ingin mendiversifikasi portfolio perlu mempertimbangkan saham-saham pertahanan dan pengamanan. Bahkan jika terorisme bukan menjadi ancaman, saham-saham seperti ini biasanya berkinerja baik.