Selama beberapa dekade belakangan, beberapa State telah menaikkan batas kecepatan di jalan raya mereka. Dampak baiknya adalah pengemudi dapat mencapai tempat tujuan lebih cepat. Dampak buruknya adalah beberapa pengemudi sama sekali tidak sampai tujuan. Menurut riset beberapa waktu lalu, batas kecepatan yang lebih tinggi telah menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan maut.

Pada tahun 1973, di tengah kekhawatiran atas kelangkaan BBM, Kongres mengesahkan undang-undang yang mengharuskan State untuk menetapkan batas kecepatan jalan raya di angka 88 km per jam atau kalau tidak harus kehilangan dana jalan raya dari pemerintah federal. Semua State pun akhirnya menerapkan batasan 88 km per jam tersebut. Efek sampingnya adalah menurunnya korban kematian di jalan raya.

Tahun 1987, pasokan BBM telah meningkat, sehingga tidak perlu lagi dilakukan penghematan. Kongres mengamandemen undang-undang tersebut di atas dan membolehkan State untuk menaikkan batas kecepatan menjadi 105 km per jam di jalan raya pedesaan. Tahun 1995, undang-undang tersebut dicabut. Mereka yang setuju dengan pencabutan itu beranggapan bahwa tidak banyak orang yang mematuhi batas kecepatan 88 km per jam. Riset-riset sejak itu menunjukkan bahwa kecepatan berkendara meningkat setelah pencabutan undang-undang tersebut.

Di beberapa state, batas kecepatan malah jauh di atas 88 km per jam. Enam state sekarang memiliki batas kecepatan 130 km per jam. Texas malah memiliki batas kecepatan 137 km per jam di jalan-jalan tertentu.

Penelitian belum lama ini oleh Insurance Institute for Highway Safety meneliti dampak semua kenaikan batas kecepatan antara tahun 1993 sampai 2013 di 41 state. Peneliti memperinci data tentang jumlah korban jiwa per milyar km perjalanan menurut state dan menurut jenis jalan (perkotaan, pedesaan, dll.). Para peneliti lalu memeriksa faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat korban jiwa, seperti angka pengangguran, jumlah pengendara berumur antara 16 sampai 24, dan konsumsi alkohol per kapita.

Penelitian menemukan bahwa korban jiwa naik sebesar 4 persen untuk setiap 8 km per jam kenaikan batas kecepatan. Kenaikan ini bahkan lebih tinggi di jalan raya antar state dan jalan tol, yaitu sebesar 8 persen.

Peneliti membandingkan angka korban jiwa yang sebenarnya dengan angka korban jiwa seandainya tiap state tidak mengganti batas kecepatan sejak 1993. Mereka memperkirakan bahwa ada 33.000 lebih banyak korban jiwa oleh karena batas kecepatan yang lebih tinggi. Di tahun 2013 sendiri, diperkirakan ada 1.900 korban jiwa tambahan. Sebagai perbandingan, jumlah korban meninggal di kapal Titanic adalah 1.500 lebih sedikit.

Bahkan, peneliti menduga bahwa 33.000 korban jiwa tambahan ini lebih rendah dari angka sebenarnya. Mereka hanya memperhitungkan kenaikan korban jiwa di jalan raya pedesaan. Padahal, beberapa state juga menaikkan batas kecepatan di jalan-jalan perkotaan. Beberapa state lain meningkatkan batas di satu bagian jalan dan kemudian menaikkannya di bagian-bagian lain, dan ini juga tidak diperhitungkan. Ditambah lagi, sejak periode penelitian berakhir, lima state telah menaikkan batas kecepatan di atas 120 km per jam dan beberapa state lain dari 105 ke 113 km per jam.

Terbukti bahwa keinginan orang Amerika untuk memacu kendaraan lebih kencang telah memperpendek hidup mereka. Selain itu, kebiasaan ini menyebabkan naiknya biaya-biaya lain, seperti biaya layanan darurat, biaya pengobatan, dan premi asuransi mobil. Para pembuat kebijakan di tiap-tiap state harus memutuskan apakah faedah batas kecepatan lebih tinggi lebih banyak daripada kerugiannya.