Gross Margin (marjin kotor) adalah ukuran keuntungan per dolar penjualan yang didapat sebuah toko untuk dialokasikan pada apapun selain inventaris.

Misalnya, apabila toko Brooke memiliki 48% marjin laba kotor, ini berarti bahwa dari setiap $100 merchandise yang terjual di tokonya, $52 dialokasikan untuk inventaris dan $48 untuk apapun selain inventaris.

Persamaan di atas adalah hitungan matematika yang membuat toko mendapat laba. Untuk membuat usaha lebih menghasilkan laba, sebuah toko harus meningkatkan marjin laba kotor.

Apa Yang Bisa Meningkatkan Marjin Kotor?

Stretegi terbaik untuk meningkatkan Marjin Kotor adalah dengan meningkatkan Markup Awal saat menentukan harga barang.

Initial markup (Markup Awal) adalah jumlah laba potensial dari harga jual barang. Markup adalah selisih antara harga barang dari vendor dan harga jual yang dibayar pembeli. Markup selalu dalam persentase.

Markup Awal% = [(Harga Jual – Harga vendor)/Harga Jual] x 100

Sebagai ilustrasi, dua toko yang memiliki volume penjualan yang sama yaitu $400,000 dan menerapkan penyusutan harga jual (markdown) tahunan yang persentasenya sama.

Clere menerapkan markup awal sebesar 50%. Artinya, Clere membeli bola dari vendor dengan harga $10 dan melakukan markup harga menjadi $20. Tidak semua barang terjual dengan harga penuh, jadi marjin kotor setelah mempertimbangkan markdown adalah 37.5 persen. Anggap saja begini. Untuk setiap $100 hasil penjualan yang dia terima, $62.50 dipakai untuk membayar barang inventaris dan $37.50 untuk membayar apapun selain inventaris.

Brooke menetapkan markup awal sebesar 55%. Dia membeli bola dari vendor seharga sama yaitu $10 dan menetapkan harga jual $22. Setelah markdown, marjin kotornya adalah 43 persen. Untuk setiap $100 hasil penjualan, $57 untuk inventaris dan $43 untuk selain inventaris.

Mari kita perhatikan lagi.

Keduanya melakukan penjualan $400,000 dalam satu tahun.

Mereka memiliki persentase markdown yang sama dalam satu tahun tersebut.

Marjin kotor Clare sebesar 37.5%, sedangkan marjin kotor Brooke adalah 43%.

Untuk tiap $100 penjualan Clare, dan setelah untuk inventaris, Clare menyisihkan $37.50 di bank.

Untuk tiap $100 penjualan Brooke, dan setelah untuk inventaris, Brooke menyisihkan $43 di bank.

Untuk tiap $100 penjualan Clare, dan setelah untuk inventaris, Clare menyisihkan $5.50 lebih banyak di bank daripada Brooke.

Marjin kotor Clare adalah 5.5% lebih tinggi karena markup awalnya lebih tinggi.

Dampak dolar dari marjin kotor yang lebih tinggi ditentukan dengan mengalikan penjualan dengan selisih persentase marjin kotor.

$400,000 x 5.5% = $22,000

Di akhir tahun, Clare memiliki ekstra $22,000 di rekening banknya.

Clare memiliki $22,000 ekstra karena dia mengikuti strategi menaikkan markup awalnya sehingga markup rata-rata di seluruh tokonya adalah 55 persen. Kuncinya adalah markup tersebut adalah markup awal RATA-RATA. Beberapa barang harga jualnya sudah ditentukan oleh produsen, sedangkan barang lainnya dapat di-markup lebih tinggi. Clare telah menetapkan bahwa setiap bulan dia meninjau kembali harga beli dan harga jual barang sehingga total kesemuanya mencapai markup awal sebesar 55 persen.

Satu cara mudah meningkatkan laba adalah dengan menaikkan margin kotor dengan menaikkan markup awal.

Jalan pintas menaikkan markup awal adalah dengan memilih barang yang harganya bisa dikalikan 3 atau 4 kali. Ini akan menciptakan markup awal sebesar 66 sampai 75 persen. Resikonya kecil karena bahkan jika harganya di-markdown (disusutkan), masih tersedia marjin kotor yang besar.